Skip to main content

Finally, Bali #4

#4

Minggu, 7 Oktober 2018



Masih dalam suasana staycation di Ubud, minggu pagi kita sarapan dan aku jadi tukang foto orang-orang. Seru lihat mereka berenang sambil berusaha foto underwater. Kemudian baru kusadari, aku gak punya foto selama di vila. Bahkan foto di pinggir kolam renang pun tak ada. Hiks..

Setelah jam check out, kami balik lagi ke Denpasar sambil makan siang di Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku.





Sampai Denpasar, baru ngeh kalo bantal leherku ketinggalan 😭 Beruntung pengelola vila berbaik hati mau kirim balik bantal yang penuh kenanngan dan tidak dipungut biaya. Aaaaaaa seneng banget dapet pelayanan yang seperti itu and i'm feeling blessed. Banyak banget orang baik disekitar kita.

Menghilangkan rasa sedih dan gundah gulana gara-gara bantal ketinggalan, kami ke Motel Mexicola. Yaaaa walau cuma nyobain coctailnya, tapi seneng banget lihat suasana di sana. Melihat perbedaan turis lokal dengan turis mancanegara. Turis lokal mah ketempat yang kece dan hits, langsung dijadiin tempat foto-foto (termasuk aku), meanwhile, turis mancanegara justru tetap asyik menikmati makanan dan obrolan mereka.






Comments

Popular posts from this blog

#TentangBrunei: Belanja Oleh-oleh di Brunei

Assalamu'alaikum, Bagian tersulit dari perjalanan kali ini adalah cari oleh-oleh. Sebenarnya aku sudah memulai mengurangi belanja oleh-oleh untuk orang lain, pengecualian ke teman dekat dan tim kerja yang kelimpahan pekerjaanku saat aku cuti. Kalau untuk diri sendiri aku masih suka beli. Minimal, magnet kulkas atau tumbler  Starbucks geographic series. Tapi karena salah satu temanku ini sangat suka membeli oleh-oleh, jadi kami harus banget beli oleh-oleh. Bagi (kebanyakan) orang Indonesia, memberikan oleh-oleh untuk orang-orang terdekat setelah melakukan perjalanan atau liburan menjadi semacam kewajiban. Selama di Brunei cukup bingung mencari toko yang menjual souvenir dengan ciri khas Brunei. Bahkan mencoba googling pun, menurutku hasilnya kurang memuaskan. Setelah bertanya ke pemilik apartemen, kami diarahkan ke toko Happy Star Brunei Souvenir Shop yang berada di daerah Gadong. Di sini kalian bisa menemukan gantungan kunci, magnet hiasan kulkas, hiasan meja dari akrili...

Lampung, Way Kambas, dan Cerita Tentang Gajah

Hari kedua di Lampung. Kami sudah janjian dengan pak Tino untuk dijemput pukul 08:00 dan langsung menuju Way Kambas. Sekitar pukul 08:30, setelah sarapan di penginapan, kami langsung checkout dan berangkat ke Way Kambas. Perjalanan yang di tempuh cukup atau mungkin sangat jauh. Kurang lebih 110 km dari Bandar Lampung atau sekitar 2-3 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan, jalan tak selalu mulus. Ya sebelum berangkat ke Lampung, saya membaca beberapa tulisan yang menyayangkan kondisi jalan menuju tempat wisata di Lampung. Padahal potensi wisata di Lampung cukup banyak. ketemu gajah dan mahout saat menuju TNWK Sekitar pukul 11:00, kami sampai di gerbang masuk. Kami harus membayar Rp30.000 untuk tiket masuk berdua (driver sering kali tidak dikenakan tiket masuk tempat pariwisata, kecuali mobil tetap bayar). Memasuki Taman Nasional Way Kambas, ditengah perjalanan kami melihat sekumpulan monyet di pinggir jalan. Sepertinya merek berharap pengunjung yang lewat memberinya makanan. ...

#TentangBrunei: Kulineran di Pasar Gadong

Assalaimu'alaikum, Hayooo ngaku, kalau bepergian ke tempat yang baru, kuliner lokal pasti masuk daftar "hal yang harus dilakukan ketika di xxx" kan? Tempat pertama yang aku datangi ketika sampai di Brunei adalah Pasar Gadong. Kebetulan karena sudah mendekati waktu berbuka puasa, jadi sekalian saja langsung ke pasar. Ku kira suasananya akan seperti di Jakarta yang akan penuh menjelang berbuka. Ternyata tidak! Ramainya tetap layak macam pasar kaget atau bazaar Ramadhan, tapi penuh sesaknya tak sama. Kalian masih bisa berkeliling pasar, tanpa berdesakan dan membeli makanan dan minuman tanpa takut soldout . Di Pasar Gadong kalian bisa coba kuliner khas Brunei, terutama untuk street food dan quick bites ya. Untuk jajan pasar seperti kue basah, variannya sama seperti yang ditemukan di pasar tradisional di Indonesia. Hanya nama dan penyebutannya yang berbeda. Untuk harga, menurutku masih 11:12 lah dengan harga di Indonesia. Ketika berkunjung ke Brunei jan...